SELAMAT DATANG

Tuesday, December 20, 2011

SEJARAH PENEMUAN METODE PRAKTIS BELAJAR MEMBACA AL-QUR’AN


SEJARAH PENEMUAN METODE PRAKTIS BELAJAR MEMBACA AL-QUR’AN
“METODE QIRAATI”
Sejarah penemuan dan penyusun metode baru, yakni Metode Praktis Belajar Membaca Al-Qur’an “Qiraati” membutuhkan perjalanan masa yang cukup lama dengan usaha, penelitian, pengamatan dan uji coba selama bertahun-tahun. Dengan penuh ketekunan dan kesabaran Bapak H. Dachlan Salim Zarkasyi selalu mengadakan pengamatan dan penelitian pada majelis pengajaran Al-Qur’an di musholla-musholla, di masjid-masjid maupun majelis tadarus Al-Qur’an. Dari hasil pengamatan dan penelitian ini beliau mendapatkan masukan-masukan dalam penyusunan metode Qiraati, dimana hal-hal yanng dirasa perlu dan penting untuk diketahui dan dipelajari anak-anak beliau tulis, beserta contoh-contohnya yang kemudian di uji cobakan kepada anak didiknya. Sehingga dengan demikian penyusunan Metode Qiraati ini bukan berupa satu paket buku sekali jadi dari hasil ‘otak-atik akal’, melainkan dari hasil pengamatan, penelitian dan percobaan, sehingga Metode Qiraati ini mempunyai gerak yang dinamis sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan.
1.        AWAL MENGAJAR NGAJI
Bermula dari panggilan hati Bapak Dachlan Salim Zarkasyi sebagai seorang muslim untuk mengajar ngaji (membaca Al-Qur’an) kepada anak-anaknya sendiri dan anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Beliau mulai mengajar ngaji ini pada tahun 1963. Pada saat itu beliau mengajar dengan menggunakan Kitab Turutan (Metode / Kaidah Baghdadiyah) sebagaimana umumnya guru-guru ngaji di Indonesia. Namun ternyata dalam mengajar dengan Kitab Turutan ini beliau merasa kesulitan sehingga tidak diperoleh hasil yang memuaskan. Dimana anak cenderung hanya sekedar menghafal dan tidak faham masing-masing huruf,sehingga anak tidak membaca sendiri, tetapi harus dituntun dalam membaca Al-Qur’an.
Dari rasa tidak puas dengan Kaidah Baghdadiyah yang diajarkan dengan cara dituntun ini, timbul gagasan pemikiran di benak beliau bagaimana cara mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang lebih mudah dan berhasil dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil. Untuk itu membeli buku-buku yang katanya praktis dan memudahkan orang belajar membaca Al-Qur’an, untuk diajarkan kepada anak didiknya. Namun setelah dipelajari tidak ada satupun buku yang dipergunakan untuk mengajar, karena dalam buku-buku tersebut hanya diajarkan sekedar bisa membaca huruf Al-Qur’an dengan bacaan tartil. Dan yang lebih merisaukan beliau adalah contoh-contoh yang diberikan menggunakan bahasa jawa ataupun bahasa Indonesia, bukan dengan bahasa Arab ataupun bahasa Al-Qur’an.
Karena tidak ditemukan buku yang dikehendaki, tercetuslah gagasan untuk menyusun metode yang berbeda dengan metode-metode yang sudah ada sebelumnya.

2.        AWAL PENYUSUNAN METODE QIRAATI
Dengan dorongan keinginan hati untuk mengajarkan Al-Qur’an dengan baik dan benar, serta dengan keberanian yang didukung oleh inayah dan hidayah Allah, Bapak H. Dachlan Salim Zarkasyi mulai mencoba menyusun dan menulis sendiri metode yang dikehendakinya itu. Yakni metode yang berhasil dalam mengajar membaca Al-Qur’an yang sekaligus mudah dan disukai anak-anak.
Supaya anak-anak mudah membaca dan betul-betul mengerti serta faham, maka oleh beliau dicobalah menulis pelajaran dengan bacaan “bunyi” huruf Hijaiyyah yang sudah berharakat “fathah”. Dalam palajaran ini anak tidak boleh mengeja, misalnya Alif fathah A, BA fathah BA, tetapi langsung membaca bunyi huruf yang sudah berharakat fathah tadi, seperti : اَ - بَ - تَ  ---A----BA----TA--- dan seterusnya. Agar anak bisa membaca dengan baik dan benar, maka sejak awal sekali anak sudah diharuskan membacanya dengan lancar, cepat dan tepat, tanpa ada salah dalam membaca. Dengan demikian secara tidak langsung anak harus mengerti dan faham masing-masing huruf Hijaiyyahnya.
Demikianlah, dengan penuh kesabaran dan ketelitian, sehuruf demi sehuruf beliau coba untuk diajarkan  kepada anak didiknya walaupun nampaknya lambat, tetapi anak-anak betul-betul dan faham. Agar anak terlatih dan dapat membaca dengan benar, maka setiap contoh bacaannya diambilkan dari kalimat-kalimat Al-Qur’an juga kalimat-kalimat bahasa Arab. Setelah anak-anak lancar membaca huruf-huruf Hijaiyyah yang berharakat fathah, kemudian dicoba dengan huruf-huruf yang berharakat kasrah dan dhummah. Demikian pula dengan huruf-huruf yang berharakat fathah tanwin, kasrah tanwin dan dhummah tanwin.
3.        PELAJARAN BACAAN MAD DAN BACAAN PANJANG
Sebagai seorang pedagang,  Bapak H. Dachlan Salim Zarkasyi sering berkelana mengunjungi beberapa kota di Indonesia untuk memasarkan atau mengambil barang dagangannya. Biasanya pada kesempatan seperti ini beliau manfaatkan untuk mengamati cara-cara yang digunakan oleh guru-guru ngaji di mushola, ataupun di masjid-masjid. Ternyata, dari semua kota yang sering beliau kunjungi ditemukan keadaan yang cukup memprihatinkan dalam pengajaran Al-Qur’an, guru ngaji menanamkan pelajaran yang salah; yakni mengeja dan menghafal. Juga dalam bacaan madnya banyak yang rusak (salah). Seperti, misalnya anak-anak membaca panjang yang semestinya harus dibaca pendek, begitu pula sebaliknya anak-anak membaca pendek yang semestinya dibaca panjang.
Dari penelitian beliau, ternyata anak-anak kurang ‘matang’ dalam belajar bacaan madnya,  disebabkan karena gurunya kurang waspada dalam mengajarkan bacaan mad ini. Melihat keadaan seperti ini, beliau menganggap pentingnya pelajaran bacaan mad bagi anak didiknya, yakni pelajaran bacaan Mad Thobi’i. Malam harinya beliau menyusun dan menulis pelajaran mad ini, kemudian besok sorenya dicobakan kepada anak didiknya. Manakala anak didiknya tidak mampu atau tidak faham atau tidak mengerti, maka kertasnya disobek-sobek. Dengan penuh kesabaran beliau mencobanya lagi dengan memberi contoh yang lebih mudah. Jika anak didiknya dapat menerima dan mengerti sehingga dapat membacanya dengan baik dan benar, maka kertas-kertasnya dikumpulkan. Demikianlah, beliau terus menulis dan menyusun pelajaran semua bacaan-bacaan mad thobi’i beserta contoh-contohnya. Contoh-contoh ini diambilkan dari Al-Qur’an dan dari kamus bahasa Arab, agar contoh-contohnya tidak salah, maka contoh-contohnya itu ditashihkan kepada ‘ulama yang ahli bahasa Arab dan Al-Qur’an.
Akhirnya tersusunlah pelajaran bacaan mad, yang diawali dari fathah diikuti alif,fathah berdiri (fathah panjang), kasrah diikuti Ya sukun, dhummah diikuti wawu sukun, serta kasrah berdiri (kasrah panjang) dan dhummah terbalik (dhummah panjang).
                                 
4.        EMPAT SERANGKAI HURUF SUKUN
Hampir bersamaan dengan awal penyusun Buku Qiraati pada tahun 1963 itu, Bapak H. Dachlan Salim Zarkasyi bersama sahabatnya Ustadz Abdul Wahid membentuk jamaah Mal-Jum (Malam Jum’at), yakni jamaah tadarus Al-Qur’an untuk orang-orang dewasa.
Suatu ketika saat bertadarus Al-Qur’an pada jamaah Maljum, beliau mendengar beberapa orang membaca huruf  “Lam Sukun” salah. Ada yang membacanya dipanjangkan (ditahan lama lam sukunnya), ada pula yang membaca menggantung atau ‘tawallud’ sehingga terdengar bunyi ‘e pepet’ (dalam bahasa jawa), seperti Al-le, Allll......... Melihat keadaan yang demikian, timbul pemikiran bahwa bacaan “Lam Sukun” perlu yang penting untuk diajarkan kepada anak-anak. Kemudian beliau mencoba menulis dan menyusun pelajaran “Lam Sukun” ini. Dalam penyusunan ini ternyata tidaklah mudah yakni lam sukun yang dibaca jelas dan tegas. Namun dengan penuh kesabaran dan ketelitian, akhirnya tersusunlah juga pelajaran “Lam Sukun yang dibaca jelas dan tegas”, yang kemudian sekaligus dirangkaikan dengan pelajaran bacaan “Al Qomariyyah”. Pelajaran bacaan Al Qomariyyah diberikan dengan tujuan untuk melatih anak membaca sambil melihat huruf-huruf yang akan dibaca di sebelahnya (disampingnya).
Setelah berhasil dengan Lam Sukun, beliau mencoba dengan huruf-huruf yang lainnya. Secara kebetulan beliau mencoba dengan huruf “Sin Sukun”, ternyata tanpa kesulitan anak-anak langsung dapat membaca dengan mudah. Maka ditulislah contoh-contoh bacaan yang ada huruf Sin Sukunnya. Di tengah-tengah pengenalan huruf-huruf sukun ini, beliau menyusun pelajaran “Harfu Liin” (bacaan fathah diikuti Ya atau wawu sukun). Hal ini sangat penting untuk diajarkan untuk kesungguhan, karena banyak orang yang membaca Al-Qur’an bersuara AO dan AE bukan bersuara AU dan AI, dan agar anak dapat membedakan bacaan Harfu Liin dengan bacaan Mad.
Selanjutnya percobaan dengan huruf-huruf sukun ini dilanjutkan. Secara kebetulan pula beliau mencoba huruf “RO Sukun”, ternyata dengan sangat mudah anak-anak dapat membaca dengan lancar. Begitu pula dengan mencoba huruf “Mim Sukun” ternyata tidak menemui kesulitan pula. Sekalipun ada maksud untuk mencoba huruf sukun yang lain, ternyata dengan empat huruf sukun ini anak sudah dapat membaca sendiri huruf-huruf sukun yang lainnya. Sehingga pelajaran huruf-huruf sukun yang beliau tulis hanya “Empat Serangkai Huruf Sukun” saja, yakni Lam Sukun, Sin Sukun, Ro Sukun, dan Mim Sukun. Sehingga huruf-huruf sukun tadi secara otomatis anak-anak telah dapat membaca huruf-huruf sukun yang lain.

5.        SATU MALAM SATU RAHASIA
Sebagaimana manusia umumnya, suatu ketika kreativitas Bapak H.Dachlan Salim Zarkasyi terhenti tidak ada inspirasi manakala tidak mengetahui apalagi yang harus diperbuat selanjutnya. Perasaan ini beliau rasakan pada saat ada keinginan untuk mencari dan menyusun pelajaran yang akan diberikan kepada anak didiknya selanjutnya. Seperti akal dan fikirannya buntu tidak bisa menemukan jawaban. Namun, jika Allah menghendaki semuanya akan menjadi mudah. Untuk menenangkan fikiran dan hati yang risau, beliau mendengarkan dan mengamati anak-anak yang sedang belajar ngaji di salah satu kota semarang. Satu persatu anak itu beliau perhatikan dengan mendengarkan bacaan mereka. Namun sampai anak yang terakhir, tidak ada satupun bacaan yang benar, yakni bacaan tartil menurut kaidah ilmu tajwid. Hasil pengamatannya ini beliau sampaikan kepada guru ngaji anak-anak tadi, “Mengapa tidak ada satupun anak-anak tadi yang membaca tartil?” namun jawaban sungguh mengagetkan baliau, “saya tidak sanggup untuk mengajarkannya dengan membaca tartil. Biarlah cukup anak-anak bisa membaca Al-Qur’an dulu, nanti kalau sudah khatam dan diajari ilmu tajwid, tentu mereka akan mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil dengan sendirinya”. Mendengar jawaban dari seorang guru Al-Qur’an seperti itu, jalan fikiran beliau tidak bisa menerimanya. Apakah mengajar bacaan tartil itu sulit? Jika sulit, sulitnya dimana? Jika jawaban seorang guru ahli Al-Qur’an demikian itu, lalu bagaimana dengan guru-guru ngaji yang bukan ahli Al-Qur’an? Kenyataannya memang demikian, mana mungkin dapat menghasilkan bacaan tartil jika tidak belajar ilmu tajwid.
Perasaan dan fikiran beliau menjadi galau dan resah atas jawaban itu, bahwa “mengajar tartil itu sulit”, sehingga terbawa dalam tidur beliau pada malam harinya. Suatu ketika antara tidur dan jaga pada malam itu, atas petunjuk ilham dari Allah, terpampang dihadapan beliau kunci pelajaran bacaan-bacaan tartil yang harus diajarkan, yakni dimulai dari “Nun Sukun” yang dibaca dengung (yang dalam ilmu Tajwid dinamakan bacaan Ikhfa). Sungguh suatu petunjuk Allah yang sangat luar biasa. Malam yang luar biasa penuh rahasia, kata Bapak H. Dachlan Salim Zakarsyi. Esok harinya beliau mulai menulis dan menyusun pelajaran Nun Sukun yang semalam beliau temukan. Kemudian sorenya beliau uji cobakan dengan anak didiknya, ternyata dengan mudah anak-anak mampu mempelajari dan membacanya dengan baik dan benar sesuai yang dikehendaki oleh beliau. Setelah berhasil dengan Nun Sukun, beliau mencoba dengan tanwin, yang suaranya sama dengan nun sukun. Selanjutnya disusunlah pelajaran bacaan “Ghunnah” yang diawali dengan “Nun bertasydid” dengnan asumsi bahwa bacaan sama dengan dengungnya Nun sukun bertemu nun. Demikian pula selanjutnya disusun pelajaran bacaan “Mim bertasydid” dengan asumsi bacaan dengungnya sama dengan Nun bebrtasydid.

6.        AKHIR PENYUSUNAN BUKU METODE QIRAATI
Sebagaimana biasa dalam menyusun pelajaran baru mesti ada sebab yang melatar belakkanginya dan yang menjadi acuannya. Demikian pula susunan pelajaran-pelajaran selanjutnya hingga selesainya metode. Diantaranya adalah bacaan huruf-huruf bertasydid selain huruf Nun dan Mim yang bertasydid. Suatu ketika dalam tadarus Al-Qur’an yang beliau ikuti banyak orang yang membaca salah, terutama dalam membaca “Lam Bertsydid”, yaitu membacanya dengan menahan suara huruf Lamnya. Melihat keadaan ini disusunlah pelajaran “Huruf-huruf Bertasydid” yang harus dibaca tegas dan jelas serta cepat, yang kemudian dirangkaikan dengan pelajaran bacaan “Al Syamsiyyah”.
Suatu ketika ada orang yang salah membacanya : سَاُورِيْكُمْ  dengan memanjangkan bacaan “اُو ’’ nya. Sehingga tersusunlah pelajaran “اُو  yang dibaca pendek, yakni :اُولئِكَ  Adanya pelajaran Mim sukun Bertemu Mim, yang dibaca dengung dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang belum bisa membedakan antara Mim sukun bertemu mim, dengan Mim  sukun bertemu selain huruf Mim dan Ba. Pelajaran ini diansumsikan dengan pelajaran Mim sukun atau Tanwin bertemu dengan Mim.
Adapun pelajaran “Nun Sukun atau Tanwin bertemu Lam dan Ro” dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang membaca dengan menahan bacaan Lamnya. Kemudian pelajaran disusul dengan pelajaran bacaan “Nun Sukun atau Tanwin bertemu dengan Wawu dan Ya” yang dibaca idgham dengan dengung (idgham bilaghunnah). Sedangkan pelajaran Waqaf (berhenti) di akhir ayat dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang salah dalam menghentikan bacaannya, yaitu seolah-olah setiap waqaf atau berhenti dibaca panjang. Pelajaran cara membaca “Lafazh Allah” dilatarbelakangi oleh bacaan yang salah, misalnya رَسُوْلِ اللهِ banyak yang membaca Rosulilloh, dan sebagainya.
Karena ada orang yang membaca Iqlab, yaitu Nun Sukun atau Tanwin bertemu Ba salah, maka beliau menyusun pelajaran “Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan Ba”, yang dirangkaikan dengan pelajaran bacaan “Mim Sukun bertemu Ba”,karena suara bacaan dengungnya sama. Sedangkan pelajaran bacaan “Qalqalah” adalah untuk melatih agar anak-anak dapat membaca Qalqalah denngan fasih dan benar. Akhirnya sampailah pelajaran bacaan “Nun Sukun atau Tanwin bertemu dengan huruf Hamzah atau Alif, Ha, Kho, ‘Ain, Ghain, dan Hha” yang dibaca terang atau jelas dan tegas, sehingga anak-anak mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai dengan Ilmu Tajwid. Semua itu diajarkan langsung dan praktek bacaan yang benar.
Demikianlah semua pelajaran yang telah dapat beliau susun, kemudian dari kertas-kertas yang telah dikumpulkan dari awal penyusunan yang telah dibendel, ternyata terkumpul dan tersusun atas sepuluh buku. Kemudian dari susunan yang awal hingga yang akhir, berdasarkan urutan-urutan penulisan pelajarannya, tiap bendel diberi nomor dari satu hingga nomor sepuluh. Sehingga dengan demikian buku yang beliau tulis ini terdiri dari sepuluh jilid. Dan untuk mempermudah dalam mengajarkannya kepada anak didiknya, maka masing-masing jilidnya disablon dan kemudian dibagikan kepada anak-anak didiknya. Sehingga dalam belajar, masing-nasing anak didiknya memegang satu buku.
7.        NAMA QIRAATI
Demikianlah, buku sablonan sepuluh jilid ini telah dipergunakan oleh anak-anak didiknya dalam belajar membaca Al-Qur’an, namun bukunya sendiri belum mempunyai nama. Kiranya namapun diperlukan agar mudah untuk mengingat dan menyebutnya. Sehingga timbullah keinginan untuk memberi nama buku susunan Bapak H. Dachlan Salim Zarkasyi.
Suatu malam ba’dal isya, beliau berjumpa denngan Ustadz Achmad Djunaidi, kepadanya beliau utarakan keinginan untuk memberi nama buku metode baru itu. Dan oleh Ustadz Aachmad Djunaidi diusulkan untuk diberi nama “QIRAATI” saja. Pada esok harinya (ba’dal subuh), beliau berjumpa dengan Ustadz Syukri Taufiq (guru dari Ustadz Achmad Djunaidi), tanpa menceritakan pertemuan beliau dengan Ustadz Achmad Djunaidi beliau sampaikan maksudnya untuk memberi nama buku temuannya itu. Dan ternyata Ustadz Syukuri Taufiq juga mengusulkan untuk diberi nama yang sama, yakni  “QIRAATI”. Maka beliau pakailah nama QIRAATI untuk bukunya itu. QIRAATI berarti “bacaanku” yang bermakna “inilah bacaanku (bacaan Al-Qur’an) yang benar sesuai kaidah Ilmu Tajwid”.
Pada setiap acara khataman, Bapak H.Dachlan Salim Zarkasyi selalu mengundang para ‘alim ulama (terutama khufadz), untuk khataman yang ke berapa, Bapak H.Dachlan Salim Zarkasyi melontarkan permohonan nama untuk lembaga pengajarannya karena selama itu tidak atau belum punya nama. Kemudian beberapa ‘ulama ahli Al-Qur’an yang hadir mengusulkan beberapa nama, namun tidak ada satupun yang berkenan di hati beliau. Akhirnya seorang ‘ulama yakni K.H. Hilal Sya’ban mengusulkan untuk diberi nama “RAUDHATUL MUJAWWIDIN”, dengan alasan putra-putrinya yang telah di didik oleh Bapak H.Dachlan Salim Zarkasyi telah mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai kaidah ilmu tajwid. Karena tidak bisa menolak, maka diterimalah usulan nama Raudhatul Mujawwidin. Dengan nama ini diharapkan akan timbul cita-cita agar dalam mengajarkan Al-Qur’an tidak hanya asal bisa membaca saja, tetapi agar mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang benar sesuai dengan kaidah tajwid, dengan tartil beserta pengertian dan pendalamannya, sebagaimana yang telah kita peroleh dari Rasulullah Muhammad SAW.

8.        TASHIH DAN RESTU DARI ‘ULAMA AHLI AL-QUR’AN K.H. MUHAMMAD ARWANI AL-HAFIZH,KUDUS
Sebagai orang salaf, Bapak H. Dachlan Salim Zakarsyi selalu berpegang teguh pada ketawaduan beliau kepada ‘ulama ahli Al-Qur’an yang terdahulu dan yang masih ada. Karena ketawaduannya, beliau merasa takut dan khawatir jika dipersalahkan oleh para ‘ulama karena telah menyalahi pakem dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an, yaitu harus dengan menggunakan Kitab Turutan. Sedangkan beliau telah berani menyusun metode baru yang beliau gunakan dalam mengajar Al-Qur’an. Karena itulah, beliau tidak berani memberitahukan kepada para ‘ulama tentang penemuan itu, bahkan kepada gurunya sendiri beliau tidak berani memberi tahu.
Melihat hasil didikannya Bapak H.Dachlan Salim Zakarsyi, salah seorang wali murid dari anak didiknya yakni H. Dja’far mengajak beliau untuk sowan dan dipertemukan kepada seorang ‘ulama ahli Al-Qur’an di Kudus, yaitu K.H. Muhammad Arwani Al-Hafizh. Dimintanya agar Bapak H.Dachlan Salim Zakarsyi membawa buku Qiraati untuk diperlihatkan kepada K.H. Arwani.
Karena rasa takut kalau-kalau akan mendapat “marah” dari K.H. Arwani, maka beliau hanya tertunduk diam ketika satu persatu bukunya diteliti dan diperhatikan oleh K.H. Arwani. Setelah lama mengamati dengan seksama dari jilid ke jilid hingga sepuluh jilid, K.H. Arwani memberi tanggapan,bahwa maksudnya dengan buku disusun berjilid-jilid itu adalah agar pada diri anak-anak timbul semangat untuk berlomba-lomba dalam belajar membaca Al-Qur’an. Anak-anak saling berlomba-lomba untuk mencapai jilid atau pelajaran yang lebih tinggi. Pada akhirnya, dengan disaksikan oleh H. Dja’far dan K.H. Sya’roni beserta dua putranya K.H. Arwani, dengan penuh kepercayaan memberi restu atas buku Qiraati dengan mengatakan “kondo karo guru-guru ngaji, nek ngajar ngaji nganggo bukumu Qiraati” (bilang sama guru-guru ngaji, kalau mengajar ngaji pakai buku kamu Qiraati) ini perintah dari K.H. Arwani. Inilah tashih dan restu yang telah diberikan atas buku Qiraati dari K.H. Arwanni. Dengan restu tersebut, Bapak H. Dachlan Salim Zakarsyi merasa lega dan bersyukur, kiranya buku “Qiraati” dapat dipergunakan oleh para guru ngaji dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an. Kepada guru beliau, yakni K.H. Turmudzi Taslim AH., beliau sampaikan bahwa buku Qiraati telah di tashih oleh K.H. Arwani. Maka sejak saat itulah buku Qiraati mulai dikenal dan dipakai oleh para guru ngaji di kota Semarang dan sekitarnya.

PERINTIS TK AL-QUR’AN
Sampai dengan awal tahun 1986, Bapak Dachlan Salim Zakarsyi telah berhasil mendidik anak-anak usia 7 tahun ke atas “mampu membaca Al-Qur’an dengan bacaan tartil” dengan menggunakan Metode Qiraati. Pada waktu itulah pelajaran Qiraati dilakukan dengan cara “sorogan”.
Suatu ketika, pada bulan Mei 1986, Bapak H. Dachlan Salim Zarkasyi diajak oleh salah seorang wali murid beliau Bapak Gito untuk silaturrahim ke Pondok Pesantren Al-Qur’an anak-anak usia 4 tahun ke atas “Mambaul Hisan” di Sidayu Gresik. Setelah menyaksikan sendiri, beliau merasa prihatin kepada anak-anak kecil yang sudah terpisah dengan kedua orang tuanya, padahal se usia tersebut masih membutuhkan kasih sayang atas kedua orang tuanya. Selain itu, dalam bacaan Al-Qur’annya masih kurang tartil sebagaimana yang diharapkan. Namun, dari hasil kunjungan beliau ke Sidayu itu, dapatlah disimpulkan, bahwa anak-anak usia balita mampu untuk diajarkan membaca Al-Qur’an.
Sepulang dari Sidayu, selama sebulan di bulan Ramadhan, Bapak H. Dachlan Salim Zakarsyi menyusun kembali buku Qiraati untuk anak usia TK (4-6 tahun), yang diambilkan dari Qiraati sepuluh jilid. Kemudian dibukalah Pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak usia 4-6 tahun pada tanggal 1 Juli 1986. Sistem pengajarannya lebih baik dari yang ada di Sidayu, serta anak-anaknya tidak perlu “mondok”, karena tidak mondok dan yang belajar adalah anak-anak usia TK itulah, maka masyarakat memberi nama sekolah “TK Al-Qur’an”. Dengan demikian TK Al-Qur’an RAUDHATUL MUJAWWIDIN adalah TK Al-Qur’an yang pertama kali di Indonesia.
Sebetulnya, awal berdirinya TK Al-Qur’an ini merupakan suatu uji coba, mungkinkah anak usia 4-6 tahun dapat diajarkan membaca Al-Qur’an dengan menggunakan Metode Qiraati, dengan masa belajar  satu jam ( dari pukul 16.00 – 17.00) setiap hari. Pada hari pertama pembukaan jumlah muridnya hanya ada 26b orang anak, dan tempat pendidikannya sementara meminjam rumah orang. Setelah berjalan tiga bulan, jumlah muridnya mencapai 70 orang anak.
Karena hanya satu percobaan, maka pendidikan direncanakan hanya empat tahun khatam Al-Qur’an 30 juz. Namun ternyata baru berjalan tujuh bulan anak-anak sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil. Sehingga target empat tahun ternyata hanya ditempuh dalam waktu dua tahun saja, tepatnya pada tanggal 1 juli 1988 TK Al-Qur’an Raudhatul Mujawwidin telah mengkhatamkan untuk yang pertama kalinya sebanyak 20 siswa (yakni khatam denngan bacaan tartil dan bacaan gharibnya).

No comments:

Post a Comment